Kisah Cinta Inggit Soekarno Berkumpul lagi di rumah kami beberapa teman suamiku. Seperti yang sudah-sudah, mereka membicarakan keadaan yang mencekik, menggelisahkan. Pada kesempatan-kesempatan seperti ini biasanya lahir perdebatan-perdebatan.
Dalam perdebatan kali ini, disebut-sebut nama Dirk Fock, Gubernur Jenderal yang paling reaksioner dari segala zaman. Tugas utamanya adalah membereskan kekayaan Belanda di sebelah timur.
Sewaktu Fock berkuasa, jika kita mengeluarkan sedikit saja celaan dan kritikan terhadap pemerintah, kita bisa dikucilkan. Banyak saudara kita yang ditangkap, dibui, atau dikirim ke pulau lain yang jauh untuk diasingkan. Waktu itu diberlakukan Undang-Undang yang luar biasa mematikan kebebasan apapun. Bahkan kita bisa masuk penjara hanya karena dalam mimpi, kita melakukan kritik terhadap pemerintah.
Gubernur Jenderal itu sudah diganti oleh A.C.D. de Graff, yang katanya akan mengembangkan politik etik. Tetapi nyatanya malahan lebih jahat dan kejam dibanding waktu Fock berkuasa. Ia peka, sedikit saja menyentilnya, ia tidak perduli laki-laki atau perempuan, bahkan terhadap yang sedang sakit sekalipun.
Pada saat seperti ini suamiku kukuh beranggapan sudah waktunya mendirikan Partai yang Radikal. "Partai yang menuntut kemerdekaan Indonesia sepenuhnya. Dan harus menjadi semboyan partai kita, Indonesia Merdeka sekarang, sekarang juga !".
Beberapa orang kemudian mendebatnya, mereka merasa bahwa rakyat belum siap.
"Indonesia merdeka sekarang, rasanya terlalu radikal. Dan kita belum bersatu betul. Kita masih berantakan", kata seseorang.
"Tidak mungkin bung. Kita akan dihancurkan sebelum mulai. Bukankah bung sendiri yang mengetahui benar kekejaman Gubernur Jenderal yang sekarang ini. Kekuatan dan kekuasaan pemerintah yang sekarang bukan main-main", kata yang lainnya.
"Aku rasa, tidak salah bahwa yang penting pertama-tama kita harus mendidik rakyat lebih dahulu supaya mereka matang, cerdas dulu. Malahan mereka mesti sehat-sehat dulu. Diajar mengurus kesehatannya pun mereka belum. Mereka belum tahu mengurus kesehatan mereka. Semua harus disiapkan dulu. Barulah kita bergerak seperti yang bung maui", kata yang seorang lagi.
Suamiku mendongkol, sudah jemu mendengar kata-kata seperti itu. Maka meledaklah ia, lalu sambil mencibirkan bibirnya berkata, "Satu-satunya saat kalau segala sesuatu itu sudah lengkap dan selesai, kalau kita sudah mati".
Aku berdoa dalam hati, semoga pertemuan ini tidak berantakan. Maka aku bermaksud memecahkan suasana tegang. "Siapa mau kopi ?, siapa mau teh ?".
Aku berhasil, mereka reda dalam perdebatan. Sewaktu aku di dapur, terdengar pembicaraan dilanjutkan. Percakapan mereka sudah berubah, yakni mereka menghasilkan apa yang mereka sebut sebagai 'panitia persiapan' untuk membentuk partai.
*






1 komentar:
Story...???? wow,,,km suka story ya.....mndingan ambil sjrah aza van....ntar ndongeng trzzz...
Posting Komentar